Selasa, 03 Februari 2015

Kuda-kuda dan Burung Hantu



Kuda-kuda dan Burung Hantu

Kuda-kuda dan Burung Hantu - Cerita ini terjadi saat aku masih menduduki kelas 7 atau saat pertama sekali masuk ke asrama. Awalnya tinggal di asrama sangatlah tidak nyaman, penuh peraturan dan terbatasnya hiburan dan teknologi. Segala jenis peralatan elektronik seperti hand phone dan komputer dilarang di asrama. Tentu saja, belajar seperti ini lebih fokus. Namun di satu sisi sangat membosankan karena harus jauh dari televisi. Namun hal itu sirna ketika aku mulai mendapatkan teman, tentu teman-teman yang aneh dan gokil.
Kisah tentang kuda-kuda burung hantu awalnya bermula ketika aku dan 4 orang temanku nongkrong di warung kopi asrama setelah pulang dari belajar malam. Saat malam hari kami tetap sekolah, walau tidak memakai seragam resmi kami tetap belajar seperti layaknya pagi hari. Sekolah malam dimulai setelah shalat magrib sekitar pukul 19.30 WIB dan selesai sekitar pukul 22.00 WIB dan harus sudah tidur pada pukul 22.40 WIB.
Shalat Insya dilaksanakan setelah pulang sekolah dan mahkamah atau pengadilan bagi pelanggar, dilakukan setelah shalat. Ada waktu sekita 40 menit sebelum lampu asrama dimatikan untuk tidur malam dan waktu itu biasanya digunakan untuk jajan, kerjakan tugas, bertemu orang tua yang menjenguk, atau belajar sendiri secara pribadi. Nah, saat waktu itu tiba, pada suatu hari aku dan temanku memakainya untuk jajan di warkop dan saat itulah kisah kuda-kuda dan burung hantu dimulai.
Warkop saat itu hanya ada satu dengan para santri yang sangat banyak maka tentu harus antri dalam memesan. Kami berlima memesan mie goreng basah, karena banyak sekali pesanan kami pun harus menunggu dan terus menunggu hingga jam dinding menunjukan pukul 23.00 WIB saat waktu tidur tiba, bel istirahat berbunyi.
“Wah udah bel ni, gimana?” Fitra kelihatan gundah.
“Ah ga apa, santai aja,” jawabku santai.
“Ah, ga apa dibediriin di depan asrama sesekali,” lanjut Kamarul.
Tiba-tiba dari belakang muncul sesosok manusia yang sangat ditakuti di asrama, Akh Ridha, sang keamanan.
Dengan sorotan mata tajam dan dingin ia tersenyum dan berkata.
“Setelah ini, langsung ke depan rayon (asrama)” dengan tersenyum ia berbalik badan dan pergi.
Fitra yang sedang minum kuku bima campur susu sampai muncrat.
“Mampus kita.” Teriak kami serentak, Kamarul pun ikut murung
Mie yang awalnya terlihat nikmat berubah jadi pahit. Kami seperti narapidana yang sedang menunggu eksekusi hukuman mati. Tak ingin dihukum setelah makan, aku pun berlari ke sumur bukan ke depan rayon, dengan alasan buang air aku mencari cara masuk kamar tanpa harus melewati kawanan keamanan yang sedang berpatroli dan menunggu kami di depan rayon. Aku pun melihat celah di jedela kamar dan mencoba masuk, aku berhasil, saat itu aku merasa sudah berhasil lolos dari terkaman macan lapar.
Kesenangan itu ternyata tidak bertahan lama, baru lima menit menikmati kasur yang empuk salah Fitra masuk kamar.
“Broe, jangan sembunyi Akh Ridha tahu kalau anta (kamu) di kamar, cepat keluar sebelum dia yang ke sini,” hanya itu yang ia ucapkan dan aku pun seperti lembu yang dicokok hidungnya, langsung keluar kamar.
“dari mana?” sambil tersenyum ramah aku pun mulai diintrogasi.
“Kamar, Akh,”
“Ngapain?”
“Tidur, ini kan jam tidur,” jawabku polos, tanpa dosa, benar-benar tanpa dosa.
“Mmm bagus, bagus, bagus sekali, kamu santri teladan, sekarang angkat kaki sebelah.” Perintah kulaksanakan tanpa banyak bacot.
15 menit berlalu, teman-teman sudah masuk ke asrama, aku masih mematung sekarang giliran posisi kuda-kuda. Asrama sudah kosong karena hukuman bagi santri lain sudah selesai, timggal aku sendiri. Ternyata tak cukup kuda-kuda tanganku disuruh rentangkan dan lutut naik turun layaknya burung ingin lepas ladas. Dan...
“Sekarang bilang ouuuk, ouuk dengan suara keras.” Suruh anggota keamanan yang lain.
Di tengah asrama dengan pose kuda-kuda aku mulai menirukan suara burung hantu. Mungkin jam dinding sudah menunjukan tengah malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar