Kuda-kuda dan Burung Hantu
Kuda-kuda dan Burung Hantu - Cerita
ini terjadi saat aku masih menduduki kelas 7 atau saat pertama sekali masuk ke
asrama. Awalnya tinggal di asrama sangatlah tidak nyaman, penuh peraturan dan
terbatasnya hiburan dan teknologi. Segala jenis peralatan elektronik seperti hand phone dan komputer dilarang di
asrama. Tentu saja, belajar seperti ini lebih fokus. Namun di satu sisi sangat
membosankan karena harus jauh dari televisi. Namun hal itu sirna ketika aku
mulai mendapatkan teman, tentu teman-teman yang aneh dan gokil.
Kisah
tentang kuda-kuda burung hantu awalnya bermula ketika aku dan 4 orang temanku nongkrong di warung kopi asrama setelah
pulang dari belajar malam. Saat malam hari kami tetap sekolah, walau tidak
memakai seragam resmi kami tetap belajar seperti layaknya pagi hari. Sekolah malam
dimulai setelah shalat magrib sekitar pukul 19.30 WIB dan selesai sekitar pukul
22.00 WIB dan harus sudah tidur pada pukul 22.40 WIB.
Shalat
Insya dilaksanakan setelah pulang sekolah dan mahkamah atau pengadilan bagi pelanggar, dilakukan setelah shalat. Ada
waktu sekita 40 menit sebelum lampu asrama dimatikan untuk tidur malam dan
waktu itu biasanya digunakan untuk jajan, kerjakan tugas, bertemu orang tua
yang menjenguk, atau belajar sendiri secara pribadi. Nah, saat waktu itu tiba,
pada suatu hari aku dan temanku memakainya untuk jajan di warkop dan saat
itulah kisah kuda-kuda dan burung hantu dimulai.
Warkop
saat itu hanya ada satu dengan para santri yang sangat banyak maka tentu harus
antri dalam memesan. Kami berlima memesan mie goreng basah, karena banyak
sekali pesanan kami pun harus menunggu dan terus menunggu hingga jam dinding
menunjukan pukul 23.00 WIB saat waktu tidur tiba, bel istirahat berbunyi.
“Wah
udah bel ni, gimana?” Fitra kelihatan gundah.
“Ah
ga apa, santai aja,” jawabku santai.
“Ah,
ga apa dibediriin di depan asrama sesekali,” lanjut Kamarul.
Tiba-tiba
dari belakang muncul sesosok manusia yang sangat ditakuti di asrama, Akh Ridha,
sang keamanan.
Dengan
sorotan mata tajam dan dingin ia tersenyum dan berkata.
“Setelah
ini, langsung ke depan rayon (asrama)”
dengan tersenyum ia berbalik badan dan pergi.
Fitra
yang sedang minum kuku bima campur susu sampai muncrat.
“Mampus
kita.” Teriak kami serentak, Kamarul pun ikut murung
Mie
yang awalnya terlihat nikmat berubah jadi pahit. Kami seperti narapidana yang
sedang menunggu eksekusi hukuman mati. Tak ingin dihukum setelah makan, aku pun
berlari ke sumur bukan ke depan rayon,
dengan alasan buang air aku mencari cara masuk kamar tanpa harus melewati
kawanan keamanan yang sedang berpatroli dan menunggu kami di depan rayon. Aku pun melihat celah di jedela
kamar dan mencoba masuk, aku berhasil, saat itu aku merasa sudah berhasil lolos
dari terkaman macan lapar.
Kesenangan
itu ternyata tidak bertahan lama, baru lima menit menikmati kasur yang empuk
salah Fitra masuk kamar.
“Broe,
jangan sembunyi Akh Ridha tahu kalau anta
(kamu) di kamar, cepat keluar sebelum dia yang ke sini,” hanya itu yang ia
ucapkan dan aku pun seperti lembu yang dicokok hidungnya, langsung keluar
kamar.
“dari
mana?” sambil tersenyum ramah aku pun mulai diintrogasi.
“Kamar,
Akh,”
“Ngapain?”
“Tidur,
ini kan jam tidur,” jawabku polos, tanpa dosa, benar-benar tanpa dosa.
“Mmm
bagus, bagus, bagus sekali, kamu santri teladan, sekarang angkat kaki sebelah.”
Perintah kulaksanakan tanpa banyak bacot.
15
menit berlalu, teman-teman sudah masuk ke asrama, aku masih mematung sekarang
giliran posisi kuda-kuda. Asrama sudah kosong karena hukuman bagi santri lain
sudah selesai, timggal aku sendiri. Ternyata tak cukup kuda-kuda tanganku
disuruh rentangkan dan lutut naik turun layaknya burung ingin lepas ladas. Dan...
“Sekarang
bilang ouuuk, ouuk dengan suara keras.” Suruh anggota keamanan yang lain.
Di
tengah asrama dengan pose kuda-kuda aku mulai menirukan suara burung hantu. Mungkin
jam dinding sudah menunjukan tengah malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar